Ibnumasudalbantani's Blog

Ikon

saling berbagi diatas secarik blog…

JANGAN SOK TAHU!

Ini adalah sebuah tarian benang kusut pengurai gelisah, entah puisi atau bukan.

 

JANGAN SOK TAHU!

Karya: Alfain Suhuda ibnu Mas’ud CH Al-Bantani.

 

Kalian sok tahu!

Dari sekedar pembritaan media.

yang sekedar-sekedar tentang kampus kami,

Pun… kalian cerna sekedarnya!

lalu berlagak sok tahu segala!

Bagai katak diawal musim hujan!

Berisik tahu!

 

Takkah sadar?

kalian sok tahu!

Contoh kecil takkan pernah bisa mewakili kebesaran kampus kami!

Kecilnya contoh, bualan demi bualan membuat mual!

Acap kali kalian bercakap tentang kampus kami

ina… inu…

lugu nian nampaknya.

Tampak lugu!, padahal…

Amit tahu!

 

Adakah berpikir?

kalian sok tahu!

Itu semua & semua itu mungkin benar adanya,

mungkin…

namun sangat bisa itu hanya fitnah tuk berkelakar!

Tahu tak?

Tak lucu tahu!

Ha!

Yang tinggal adalah getir yang terdengar!

 

Kalian… sungguh,,, sok tahu!

Perlukah kami lukiskan?

Tentang kemegahan kampus kami!

 

Kampus kami adalah Dunianya!:

Para penghafal & pengamal qur’an!

Para inisiator penyeru kebenaran!

Para pecinta sunah dan penggiat dakwah!

Para penggerak sistem ekonomi syariah!

Para intelektual poltik islam!

Para cendikia-cendikiawan muslim!

Para pelaku seni & budaya islam!

Hingga…

Para penakluk kerasnya alam!

Para terampil beraneka kecakapan!

Para olahragawan yang membanggakan!

Para pejuang kemanusiaan & lingkungan hidup!

Para kesatria ragam beladiri!

Para disiplin setara militer!

…?

 

Percayakah?

Ter-se-rah!!!

Inilah kami, kampus kami, dan cita-cita luhur kami, apa adanya!

Banyaklah kiranya!

tak perlu kami lukiskan dengan zahir!

 

Sungguh sayang…

Sayang…, sungguh kalian tetap sok tahu!

Sok mengumbar!, mengumpat!, melebel!

suatu perkara yang takkan pernah serupa!

Sangat jelas itu bukan kampus kami!

Tanyalah hijaunya nusantara!

Dimanakah kampus pembaharu?!

 

Wahai kalian yang sok tahu!

Kami disini dan kampus tempat kami berpijak!

bukan seperti dalam benak kalian!

Kami disini bersama kampus ini!

Bersama para pemabaharu islam!

Ambil peran nyata dalam membangun negri, sejahterakan umat!

 

Perlulah kalian tahu!

Kalian perlu tahu!

Kami disini berjuang melawan segala fitnah!

Baik dalam & luar yang semakin nyata!

Kami disini berpeluh keringat bermandikan darah!

semangat membaharu adalah jati diri kami!

Tujuan kami & kampus kami jelas!

bukan seperti fitnah kejam yang menginjeksi dari dalam!

bukan pula seperti fitnah busuk yang mengontaminasi daril luar!

 

Sedari awal Konsep kami dan kampus kami jelas!

UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA”!

Inilah kami!

kampus kami!

Lantas!

BAGAIMANA DENGAN KALIAN?!

Nb:
siapun kalian, apapun latar belakang kalian. Perlu kalian ketahui, jika memang suatu aib adalah suatu kebenaran dari lingkungan tempat anda berkehidupan dan bertumbuh disana. Berusahalah sampai berpeluh dan bermandikan keringat bahkan darah untuk turut berjuang membersihkannya!.
Namun, apabila aib tersebut merupakan sebuah fitnah (baik yang berasal dari dalam maupun luar), maka berusahalah pula tuk berpeluh keringat & bermandikan darah tuk menepis, melawan fitnah-fitnah itu dan memebrsihkan pula hingga sampai keakar permasalahnnya!.
Sebab ketika kalian mendiamkan karena tidak peduli!, itu sama saja dengan mengiyakan dan menginjak-injak jati diri & kehormatan kalian!
Janganlah menjadi barisan orang-orang yang munafik!
Jadilah barisan orang-orang yang bertanggunjawab atas keimanan, amal sholeh, nasihat kebaikan dan kesabaran!
Wallahualam…

Filed under: kampus, rehat, tarbiyah,

Dunia Kampus…(1)

Bismillahirrahmanirrahiim.
Dunia kampus sebuah refleksi kehidupan nyata, ruanglingkup sosialisasi individu+komunitas yang lebih luas dan kompleks. Setiap elemen individu didalamnya dituntut untuk mematangkan diri dan komunitasnya, sebelum terjun kedunia sesungguhnya (yang merupakan himpunan yang cangkupannya lebih luas lagi). Definisi dari mematangan itu sendiri dilepas begitu saja kepada para individu+komunitas untuk mengeksplor lebih jauh tentang kematangan apa yang sesuai serta merefleksikan identitas mereka. Sehingga, mau-tidak mau dan suka-tidak suka pun, keberagaman identitas individu+komunitas kampus bertumbuh demikian lebatnya, “bagai jamur dimusim hujan”.
Mini kompleksitas dunia ini menghadirkan beragam mata pisau yang semakin banyak pemberdayagunaannya. dunia kampus bukan lagi sekedar lumbung ilmu formal belaka, tetapi bermetamorfosis menjadi sebuah paket kehidupan sosial masyarakat kota edisi portable.

Kelezatan ini tentunya tak terhidang begitu saja, sebab setiap orang sudah mesti harus mau ikut menyiapkan, memilih, memebeli, memasak, menghidang, memakan, dan merasakan. Bila dan hanya bila itu sudah dirasakan terlepas enak atau tidak, proses keberlangsungan sosilisasi kemasyarakatan akan terus berjalan. Menelusup dan menembus batas akdemik &/ profetik yang beragam, mewarnai lingkup fitrah sosial yang merupakan jati diri individu+komunitas.

ibarat pepatah, satu-satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri.

Filed under: kampus, rehat, tarbiyah, Uncategorized, , ,

jujur, hati ini… hati ini, sungguh jujur…

Wahai saudaraku yang tak pernah lelah tuk berpikir,

adakah engkau melupakan masa-masa indah kita dalam perjuangan dakwah sekolah?

saat yang lain acuh tak acuh tak peduli, sungguh engkaulah yang gagah berani digarda terdepan!

saat yang lain menghilang bak ditelan bumi, engkaulah yang muncul dipermukaan lebih dari siapapun tuk pekikan takbir dan memulai perjuangan!

saat yang lain tersungkur tak berdaya, engkaulah yang bangkit meyingkirkan segala halang rintangan!

saat yang lain berhamburan didalam hiruk-pikuk keduniaan, engkaulah yang datang tuk menyeru suarakan amar ma’ruf nahi mungkar!

saat yang lain terhimpit dalam kejahiliyahan, engkaulah yang bertarung bangkitkan semangat utlubul ‘ilma!

dan saat-saat yang lain…

engkaulah sahabat-sahabatku yang menempati keistemawaan tersendiri dalam perjalanan manisnya halaqoh dan dakwah di sekolah itu.

 

Adakah engkau mengetahui wahai saudara-saudaraku yang dirahmati allah, sungguh aku mencintai kalian karena Allah dan Rasulullah SAW!

 

terlepas dari segala kesibukan yang berlalu-lalang,

semoga allah tetap senantiasa menghimpun hati-hati kita dalam cinta padaNya, berjumpa dalam taat padaNya, bersatu dalam dakwah padaNya, berpadu dalam membela syari’atNya.

dan semoga allah mengkukuhkan ikatannya, mengkekalkan cintanya, menunjukkan jalan-jalanya.

kemudian memenuhi hati-hati kita dengan nur cahayaNya yang tiada pernah pudar.

Melapangkan dada-dada kita dengan limpahan keimanan kepadaNya dan

keindahan bertawakkal kepadaNya.

Menyalakan hati kita dengan berma’rifat padaNya.

Mematikan kita dalam syahid di jalanNya.

Sesungguhnya Dia-lah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.

Ya Allah, Aamiin. Sampaikanlah kesejahteraan, pada junjungan kami, Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan.

sungguh sampai kapan pun engkau tetaplah saudara-saudaraku!

maafkan diri ku ini wahai saudara-saudaraku!

semoga Allah meridhoi persaudaraan kita dan…

MEMPERTEMUKAN KITA DIDEPAN KAKBAH & DIDALAM SURGANYA KELAK, bersama orang-orang soleh didalam barisan Rasulullah Muhammad SAW

Filed under: rehat, tarbiyah

Atas Nama Cinta

Saudaraku yang lembut hatinya,

sungguh kita saling mencintai karena allah tuhan seru sekalian alam dan karena uswah kita Rasulullah Muhammad SAW yang senanatisa menjadi satu-satunya makhluk panutan utama dalam hati kita.

Sudah menjadi pemandangan yang tidak aneh lagi ketika memasuki bulan rabiulawal dalam penanggalan qomariyah, hampir seluruh pelosok negri begitu antusias dalam merayakan maulid yang sudah terlanjur mengakar budaya dalam tradisi kenusantaraan. Walaupun dalam pelaksanaannya seringkali terjadi penggelinciran yang perlu dikembalikan pada posisinya, yang tentunya begitu sulit untuk melakukan hal tersebut.

Saudaraku yang tak henti mengingat allah dalam setiap hembusan napasnya,

terlepas dari bebagai pendapat tentang itu semua. tidakkah kita mengetahui? Bahwa ada keurgensian tersendiri bila kita bicara tentang beliau (Rasulullah SAW). Bagaimana tidak? Hal terbut sudah terpatenkan dalam ketatapan allah SWT dalam q.s. al ahzab ayat 21. Sehingga untuk kita yang mengaku sebagai umatnya, sudah semestinya kita beruswah penuh kepada beliau dan memperaktikannya  dalam segala aspek dan konteks kehidupan yang kita jalani ini. Sungguh tidak berperadaban bila ada sebagian dari orang yang mengaku umatnya, tetapi berlepas diri dari semua hal itu.

Saudaraku yang tak pernah lelah untuk saling menasehati,

bila kita bahas lebih lanjut dalm konteks kekinian dan kedisinian. Tentunya, banyak hal yang akan terlukis dalam berlembar-lembar bahkan berbuku-buku tentang uswah kita tersebut. Dari beraneka macam hal yang kita perlukan dari beruswah kepada beliau, ada satu hal yang menjadi dasar pokok dalam bangunan uswah ini, yaitu tentang akhalak. Tidaklah ini mengada-ada, dalam suatu hadis beliau berkata bahwa tidaklah beliau di utus melainkan untuk menyempurnakan akhlak manusia. Sangat disayangkan unsur dasar ini seringkali terlupakan begitu saja. Entah apa karena terlalu berlebihannya asupan ilmu yang kita santap? Sehingga unsur dasar ini terelakan begitu saja tanpa makna?.

Saudaraku yang terjaga dimalam hari untuk sujud dan tunduk kepadaNya,

lihatlah disekeliling kita begitu banyak kebaikan serta kemaksiatan yang silihberganti berkatifitas begitu saja. Sedikit sekali dari kebaikan itu yang merasuki kemaksiatan untuk kemudian diubah menjadi kabaikan, namun begitu tidak sedikit kemasiatan yang menyuntik kedalam kabaikan yang mengakibatkan kebaikan itu termuatsi menjadi kemaksiatan. Entah caranya dipakai salah atau medianya  yang dipakai salah. Ketika memandang suatu maksiat didepan kita, tindakan cepat memang diperlukan, namun apakah itu sudah tepat?. Semua hal besar sudah semestinya harus diselesaikan dengan cara yang mendasar.

Saudaraku yang begitu lapang dadanya dalam menyikapi hidup,

Adakah kita lupa tentang kisah perjanjian hudaibiyah yang menjadi tolak awal kemenangan besar kaum muslimin? Begitu melegenda mempertekuk lutut kaum-kaum yang memusuhi islam ketika itu. Tidak sedikit awalnya pihak kaum muslimin yang meragukan isi dari perjajian tersebut. Namun bagaiman Rasulullah SAW menyikapi hal tersebut?, beliau tetap konsinten terhadap isi perjanjian tersebut yang sepintas lalu merugikan kaum muslimin. Berbagai hal terjadi pasca perjanjian tersebut, yang sesungguhnya allah sedang mentarbiyah ketaatan kaum muslimin kepadaNya dan usawah yang mereka cintai tersebut.

Suatu hari, ketika kaum muslimin masih berdiam di hudaibiyah. Sang Uswatunhasanah menyeru kaum muslimin untuk menyembelih hewan kurban dan memotong rambut mereka di tanah hudaibiyah, namun apa yang terjadi? Hening tak ada yang menggubris. Pantang berputus asa, beliau mengulangi dan mengulangi lagi perkataannya namun hasilnya tetap sama. Kembalilah ia kedalam tendanya dan berbicara tentang hal tersebut kepada istrinya. Beberapa saat kemudian beliau kelur tenda, menyembelih unta kurbannya, dan memotong rambutnya. Sehingga tersentak kemudian seluruh kaum muslimin tergerak untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh uswah mereka tersebut. Kemungkinan besar itulah maksud dari baiat mereka kepada Rasulullah SAW ketika dalam perjalanan menuju mekah sebelum sampai di hudaibiyah. Begitu banyak kisah-kisah kecil yang terjadi baik sebelum maupuan sesudah hal tadi yang mentarbiyah kaum muslimin tentang beruswah penuh kepada Rasulullah SAW. Sebab mereka tahu ini semua bukan hanya karena perintah orang yang mereka kasihi, tetapi lebih beresensi ketaatan kepada Allah SWT sekaligus meliputi ketaatan kepada beliau RasulNya.

Begitu mulia akhlak beliau dan begitu paripurna segala perilaku beliau. Segala ombak ujian selama masa perjanjian itu beliau jalani dengan menjunjung tinggi akhlaknya sebagai rasul dan diikuti dengan ketaatan penuh kaum muslimin untuk beruswah dengan segala contoh dan seruan yang dilakukan oleh beliau tentunya dengan tanpa meninggalkan dasar yang juga beliau ajarkan. Keadaan tersebut begitu terjaga hingga akhirnya Allah SWT memberikan kemenangan besar berupa penaklukan kota mekah yang disusul kemudian oleh berbondong-bondongnya manusia untuk berikrar setia menyatakan diri memeluk islam.

Saudaraku yang bijak dalam menyikapi berbagai persoalan,

begitu banyak kisah kepahlawanan yang terukit indah dalam sejarah kaum muslimin diberbagai zaman yang tak luput dari beruswah penuh kepada Rasulullah SAW, sehingga barulah mereka bisai mencapai kemenangan yang nyata. Lantas bagaimana dengan kita di era in?, apakah kita tetap mau bertahan dengan keegoisan ketidak-beradaban kita, dengan berlepas diri dari berusawa kepada mkhluk yang pari purna akhaknya?, ataukah kita rela dengan hardikan fitnah orang-orang yang memusuhi islam itu?.

Saudaraku yang tak pernah lelah untuk berpikir,

sekali lagi sungguh hal ini (bersuwah kepada beliau) menjadi hal yang paling urgen dalam menghadapi berbagai persoalan di era terbaru ini. Begitu banyak uswah dari beliau yang bisa kita pakai dalam segala aspek kekinian dan kedisinian. Tentunya dengan tanpa meninggalkan dasar agar konteksnya sesuai dengan konteks kedisinian dan kedisinian yang dibutuhkan. Adakah kita lupa bahwa kita dituntut “cerdas rabbani” dalam ketaatan kita?.

Saudaraku yang senantiasa tersenyum tulus,

janganlah kita mudah untuk berfusi dalam hingar-bingar keduniaan yang membutakan, dan janganlah kita terbodohi oleh kepintaraan kita yang menyesatkan. Dalam kehidupan ini kita takkan bisa lepas dari petunjuk, tetapi petunjuk yang mana?. Tentunya petunjuk Allah SWT tuhan seru sekalian alam dan Uswah dari RasulNya Muhammad SAW yang selamanya tidak akan pernah menyesatkan kita.

Wallahualam…

Ditulis dengan rasa cinta yang mendalam kepada Sang Uswatunhasanah Rasulullah SAW.

Filed under: rehat, tarbiyah

mengapa hanya didasari dari sekedar ketertarikan sesaat?

Bismillahirrahmaanirraniim.

berawal dari tag foto seorang adik kelas, sehingga kiranya perlu untuk berbagi (kepada siapapun) tentang secarik pendapat…

kadangkala banyak perkara (hal) yang lebih baik tidak kita ketahui dan tidak semua hal bisa semerta-merta kita dalami begitu saja tanpa adanya kesipan terlebih dahulu. sebab diperlukan kematangan emosi, pola pikir, dan dasar pokok ilmu yang membekali kesiapan kita.

kenapa bisa begitu?

sebab, dihawatirkan terjadi salah tafsir (paham) yang bisa membuat bumerang bagi diri kita sendiri (seharusnya baik tetapi jadi buruk) dan bahkan untuk orang disekitar kita.

memang membekali diri dengani pengetahuan (ilmu) yang senantiasa lebih itu penting & baik, namun sesungguhnya membekali diri dengan pengetahuan (ilmu) yang senantiasa baik itu jauh lebih penting.

perlu diperhatikanjuga, bahwasanya Allah SWT menciptkan dunia inidanseluruh isinya secara berangsur-angsur (bertahap) dan Rasulullah Muhamad SAW pun berdakwah secara bertahap. sehingga bisa kita pahami makna tersirat (dalam konteks mencari dan memperoses suatu hal yang sifatnya ilmu atau suatu perkara yang (yang baru bagi kita) perlu adanya kebertahapan yang didasari dengan keistiqomahan dalam ikhtiar seoptimal mungkin untuk mendapatkan kebaikan dari tahap-tahap tersebut. sehingga esensi terbaik dari kebaikan itu dapat kita serap dan terperoses dengan baik dalam diri kita dan bisa membawa kemanfaatan yang sifatnya luas (diri kita, orang lain, dan lingkungan kita).

wallahualam…

Filed under: rehat, tarbiyah

“secarik goretan tarian kusut” //sekedar berbagi kecemasan…

bismillahirahmaanirrahim.

 

dewasa ini semakin banyak tumbuh permasalahan yang mengherankan pikiran.

sehingga terkadang bisa membuat kepala terhenyit setengah hidup.

 

entah mengapa persoalan itu menjamur subur.

 

probabilitas terbesarnya adalah karena dangkalnya ilmu. hingga hal-hal yang bersifat inti terlewatkan begitu saja.

kearifan adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa terelakkan!.

 

maukah kita tahu apakah yang sesungguhnya menjadi hal urgen dalam permasalah yang berkecamuk ini?.

 

yah, jawabannya sudah semestinya terukir dilubuk sanubari terdalam kita, namun karena ada selaput yang membungkus qolbu kita yang mengakibatkan cahaya penumbuh tak bisa masuk untuk menarik jawaban dari black hole didalamnya. selaput itu memang tipis, namun cukup efektif tuk membuat kita terhipnotis kehilangan jati diri kita.

apa juga selaput itu?

sekiranya tak perlu dipaparkan disini, toh sudah menjadi teorema umum yang melegenda…

tidak mengherankan timbul pembenaran-pembenaran yang dianggap valid. karena datang dari pikiran manusia kemudian dibenarkan pula oleh pikiran dan otak yang sama, tidak mengherankan (tidak mau bilang yang benar saja!) suka ATAU tidak suka semuanya akan dipandang selalu benar menurut benak paham dangkal kita.

AYOLAH BERPIKIR ARIF DAN BIJAKSANA!

andaikata semua orang membenar-benarkan semua hal tanpa ada pedoman yang menjadi core (inti), mau dikemanakan muka kita?

mau BERALIBI seperti apa lagi?

mau BERALIBI SEPERTI apa lagi?

ketika diperbolehkan untuk berpikir bebas (sebagai bentuk ekspresi), bukan berarti berpikir keluar dari koridor yang sudah ditentukan.

 

~~~~~~~*****~~~~~~~

menulis ini bagai pisau bermata dua…

~~~~~~~*****~~~~~~~

pesan terakhir yang sanggup digores di tulisan ini…

memang menjadi penting itu BAIK TETAPI menjadi baik itu LEBIH PENTING!

tarian kusut ini semakin menggores tanpa haluan…

bila kita mau berpikir yang terdalam dari lubuk dasar yang terdalam.

KITA SEMUA TAHU JAWABANNYA.

permasalahannya satu, hanya satu,

… //kita semua tentu tahu

~~~~~~~*****~~~~~~~

wallahualam…

wassalammualaikum…

jazakumullah ahsanal jaza…

 

Filed under: rehat

apa yang salah?

hemm…

sewaktu melihat video di bawah ini, ane sempat mesem-mesem naik-turun ;)

dimana yang salah (letak kesalahannya)???

setelah diamati jauh lebih dalam… TERNYATA!!!

berikut ane tulis ulang video diatas:

misal A=4, B=5, C=1

C=B-A

C(B-A)=(B-A)^2

CB-CA=B^2+A^2-2AB

CB-CA=A^2+B^2-2AB

CB-CA-A^2=B^2-2AB

AB+CB-CA-A^2=B^2-AB

AB-CA-A^2=B^2-AB-CB

kesalahan terbesar terjadi disini:A(B-C-A)= B(B-C-A)

A=B

coba masukkan angka pada persaman, sehingga:

4(5-4-1)= 5(5-4-1)

4(0)= 5(0)

suatu KESALAHAN BESAR bila oprasi \frac {0} {0}=1.

sebab \frac {0} {0}=tak terdevinisi

maka,

4(0)= 5(0)

0=0

setuju tidak???

;)

Filed under: matematika, rehat, Uncategorized, ,

Amanah, ibadah, dan dakwah!

Subhanallah sekarang semuanya serba baru mulai dari tempat, susana, dan semua aktifitasnya. Namun, walau semua keadaannya baru tetap saja ada yang kurang. Kegiatan rutin (kebutuhan) itu belum juga ku jumpai lagi. Setelah kurang-lebih 3 bulan ditempat baru ini, setelah beruasaha ‘tuk mencari kebutuhan itu, setelah hampir patah arang tuk berusaha mencari kembali.

Akhirnya, secercah harapan itu datang…

Alhamdulillah memang janji allah dan rasul-Nya itu tak pernah dan tak akan pernah ingkar. Doa, ikhtiar, dan tawakal itulah 3 kuncinya. Subhanallah, dahsat luar biasa…

dahsat?

~~~***~~~

“ini nomor hp kenalan ane, nti antum hubungi dia bilang aja kayak yang kita obrolin tadi” itulah kalimat murobbi-ku yang masih ku ingat hingga kini.

Ya allah mudah-mudahan urusan ini bisa cepat selesai…

Tak semudah membalik telapak tangan. Nomor itu tak kunjung diangkat oleh sang empunya, sudah berkali-kali diulang hasilnya tu tu tu tu tu … tidak ada jawaban.

Mungkin sudah tak aktif?

Sudah hampir 2 bulan belum dapat-dapat, bosan juga tidak ada perubahan. Padahal, hati ini sudah rindu ‘tuk memulai kembali kegiatan yang sudah menjadi kebutuhan itu. Masa-masa indah di SMA dulu kembali terngiang, masa-masa liqo itu…

liqo emang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya berawal dari liqo” terngiang dibenakku tentang ucapan murobbi-ku yang penuh semangat itu. 2 bulan gak liqo rasaya kayak 20 tahun, dulu waktu kelas XI di sekolah bawaannya malas banget untuk kumpul liqo. Jika sudah begitu Q.S.[9]:41 selalu murabbi-ku sampaikan ketika melihat aku & teman-teman (para binaannya) ber-raut muka malas. Namun, ketika sekarang barulah terasa indahnya masa-masa itu dan betapa sepinya minggu-minggu tanpa pertemuan itu.

~~~***~~~

Minggu-minggu kupu-kupu, bo-san se-ka-li…

“eh… ente udah mulai liqo?” raut muka ramah itu penuh tanya. “wah blum mulai-mulai nih, harusnya sih minggu-minggu ini sudah mulai. Tapi, gak tau kenapa belum mulai-mulai. ” jawabbku sambil menggaruk kening yan tak gatal. “oh iya, ente liqo tiap malem apa?” aku berbalik bertanya. “insyaallah malam ini” jawabnya pendek.

malam ini adalah malam terdahsat!

Malam ini seperti malam sebelumnya, aktifitas monoton selalu diulang. Tapi entah kenapa ketika ingat sahabatku itu malam ini sedang liqo, jadi pengen nanya sesuatu. Tak menunggu waktu lama, dibenakku sudah terbesit apa yang ingin kusampaikan. Assalammualaikum, akh antum malam ini liqo kan?, oh iya ane kan blum mulai-mulai liqo nih. Akh yang di tunjuk ama lembaga dakwah yang dikampus belum ngasih tanggapan, kemungkinan dia sibuk. Maksud ane, kalo ane ikut liqo bareng antum bisa gak?, kalo ane ikut liqo bareng kelompok antum?. Tak mau bayanganku itu hilang, langsung saja kutuliskan dengan singkat, padat, dan jelas ke from tulis pesan di HaPe-ku.

Bak buroq yang terbang pada malam isro dan mi’raj, sms itu-pun melesat begitu cepat ke nomor yang dituju dan tak beberapa malam balasannya pun kembali.

“alhamdulillah akh bisa, murabbi ane setuju. Kebetulan liqoan ane banyak yang baru juga. Insyaallah pertemuan minggu depan antum bisa langsung liqo.”

Terkaget-kaget setengah hidup, haru bercampur bahagia terpadu begitu indahnya bak rujak dicampur dengan gado-gado tanpa mengurangi kenikmatan sedikitpun dari keduanya. Rasa kebahagian ini meluap-luap.

Tanpa menunggu komando yang ke-2 kali, sms tanda setuju-pun ku kirimkan.

~~~***~~~

Beda!, beda!, beda!

Tanpa mengurangi sukurku kehadirat-Nya atas segala karunia yang tlah diberikan, yaitu nikmat ber-halaqoh sejak tahun pertama sekolah menengah atas yang lalu. Subhanallah disini benar-benar berbeda.

Satu, dua, tiga, … Beda!

Disekolah saja sudah membuat aku jantuh cinta sejak pandangan pertama, disini lebih dari pada itu. Memang pemahaman mengantarkan kepada rasa cinta. Disekolah aku bisa mengenal apa itu islam, dan kenapa harus islam. Tetapi disini aku tahu seseuatu yaitu, kontribusi apa yang bisa  kuberikan untuk islam?.

Bayang-banyang itu muncul begitu saja, rekaman-rekaman samar liqo-ku dimasa sekolah dulu jelas sudah, bercampur dan berekasi total dengan apa yang ku dapat sekarang. Apa-apa yang diberikan dalam liqo-ku di sekolah mulai ku mengerti esensinya satu persatu melalui liqo-ku sekarang ini. Semua tanda-tanya bertahap terjawab sudah, sinkron tanpa tolak-menolak satu sama lain.

~~~***~~~

Menabung!, menabung!, menabung!

Disekolah ketika kelas XII dulu, aku sempat beberapa kali menjadi badal ketika murabbiku berhalangan hadir untuk mengisi liqo adik kelasku. Tampilan perdanaku (menjadi murabbi) itu penuh dengan keringat, gagap, dan grogi. Ternyata tak semudah dan sesederhana yang ku pikirkan, sungguh ini tidak sesederhana berbicara dalam sebuah diskusi biasa. Menabung! yah menabung ilmu, seharusnya persiapan sebelum liqo ini harus benar-benar matang dan mantap dan tidak cukup sampai disitu persipan hati dan pikiran pun tak elak harus dikondisikan sebaik mungkin untuk mengisi liqo lillahitaala. Namun, aku tlah terjun dimedan juang ini sehingga aku harus total sampai akhir tak boleh ada kata menyerah.

Alhamdulillah respon dari adik-adik kelasku ini tidak terlalu buruk, perjalanan kurang lebih 60 menit ini selesai juga. Wlaupun materi yang kusampikan tadi sempat keluar dari tema, namun inti dari tema materi tersampaikan juga. Salahku juga yang tak menyiapkan jauh-jauh hari.

Suatu saat nanti, cepat atau lambat aku ingin jadi murabbi…

~~~***~~~

…untuk saling mengenal…

Subhanallah liqo baru ku ini himpunan dari mahasiswa yang berbeda-beda universitas dan jurusan, namun jalan dakwah ini lah yang mempertemukan dan mempersatukan yang berbeda-beda itu untuk satu jalan dakwah lillah. Jelas lebih berwarana dan berbeda, setiap individu disini bukan hanya sekedar untuk mengisi ulang atau sekedar rehat dari aktifitas yang bermacam-macam. Disini setiap individu bukan hanya murabbi namun juga para binaan, hadir dengan memebawa energi-energi positif yang siap meradiasi satu sama lain untuk saling melengkapi kekuarangan dan mengkokohkannya. Muatan-muatan baik disini memancar indah dan ini semua memotivasiku untuk bisa berbuat lebih baik dalam medan dakwah ini.

Sebenarnya ketika SMA pun sama seperti ini, teman-teman yang berbeda asal SMP bertemu dalanm satu liqo di SMA. Perbedaanya di sekolah dulu, tahap perkenalan dengan dunia dakwah ini harus secra bertahap dan perlahan. Dan pembentukan rasa pesaudaraan yang kokok akan ukhuwah islamiyah ini pun harus dipupuk dan dirawat sebaik mungkin. Dan pohon-pohon perjuangan dakwah muali siap ketika menginjak kelas XII dan terutama ketika memasuki kuliah ini.

Sadar dan siap!

Mestinya kesadaran akan dakwah dan ukhuwah ini sudah dari sejak dulu ku sadari, namun ku yakin pasti allah lah yang sudah mengatur semua ini. Perjalan ini memebuat diriku semakin mantap dan matang untuk kaffah dalam jalan dakwah ini. Jangan sampai diriku ini menjadi penghalang orang lain untuk mendapatkan hidayah. Walau samar aku ingat satu kalimat yang dalam sekali maknanya, “…sesungguhnya kita sudah menjadi seorang da’i sebelum kita menjadi apa-apa…”.

Tahap demi tahap dalam jalan dakwah ini pun mulai kujalani. Mulai dari yang kecil dan mulai dari sekarang!. Tahap demi tahap dakwah jama’i dan fardiyah kujalni dan kucoba sekuat mungkin untuk istiqomah, ku yakin insyaallah bisa!. “kuliah adalah amanah, kuliah adalah ibadah, dan kuliah adalah dakwah!”.

Godaan memang snantiasa beredar disana-sini, namun liqo rutin ku ini senantiasa membuatku lebih berazzam untuk tetap istiqomah dalam dakwah ini. Walau aku belum punya group liqo binanan sendiri seperti beberapa saudara-saudaraku yang lain, walau rasa iri ingin sesegera mungkin untuk punya binaan terus mendera. Aku yakin bahwa sesungguhnya Allah swt sedang membimbing diriku melaluli jalan yang telah disiapkkanNya agar nanti cepat atau lambat diriku benar-benar siap untuk punya binanaan. Kapanpun itu insaallah aku siap dan aku yakin bahwa Allah pun yakin bahwa aku bisa!.

~~~***~~~

Dari Abu hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda:

“barang siapa yang mengajak orang kepada hidayah, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka, dan siapa saja yang menyeru orang kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa sebagaimana dosa orang yang mematuhinya dengan tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”. (H.R. Muslim)

“Ya Allah, sesunggguhnya Engkau mengetahui hati-hati ini berhimpun dalam cinta kepada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-Mu, telah terpadu dalam membela syariat-Mu. Teguhkanlah ya Allah ikatannya. Kekalkanlah cinta kasihnya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati tersebut dengan cahaya-Mu yang tidak pernah hilang. Lapangkanlah dada-dada kami dengan kelimpahan iman kepada-Mu. Hidupkanlah hati ini dengan ma’rifat kepada-Mu. Matikanlah ia dalam syahid di jalan-Mu. Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.”

Filed under: cerpen, rehat, tarbiyah, , , ,

albantani

blog ini berbagi kisahnya kepada siapapun dan siapapun boleh berbagi di bog ini.
{ibnumasudalbantani}

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 1 pengikut lainnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.