bismillahirahmaanirrahim.
dewasa ini semakin banyak tumbuh permasalahan yang mengherankan pikiran.
sehingga terkadang bisa membuat kepala terhenyit setengah hidup.
entah mengapa persoalan itu menjamur subur.
probabilitas terbesarnya adalah karena dangkalnya ilmu. hingga hal-hal yang bersifat inti terlewatkan begitu saja.
kearifan adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa terelakkan!.
maukah kita tahu apakah yang sesungguhnya menjadi hal urgen dalam permasalah yang berkecamuk ini?.
yah, jawabannya sudah semestinya terukir dilubuk sanubari terdalam kita, namun karena ada selaput yang membungkus qolbu kita yang mengakibatkan cahaya penumbuh tak bisa masuk untuk menarik jawaban dari black hole didalamnya. selaput itu memang tipis, namun cukup efektif tuk membuat kita terhipnotis kehilangan jati diri kita.
apa juga selaput itu?
sekiranya tak perlu dipaparkan disini, toh sudah menjadi teorema umum yang melegenda…
tidak mengherankan timbul pembenaran-pembenaran yang dianggap valid. karena datang dari pikiran manusia kemudian dibenarkan pula oleh pikiran dan otak yang sama, tidak mengherankan (tidak mau bilang yang benar saja!) suka ATAU tidak suka semuanya akan dipandang selalu benar menurut benak paham dangkal kita.
AYOLAH BERPIKIR ARIF DAN BIJAKSANA!
andaikata semua orang membenar-benarkan semua hal tanpa ada pedoman yang menjadi core (inti), mau dikemanakan muka kita?
…
mau BERALIBI seperti apa lagi?
…
mau BERALIBI SEPERTI apa lagi?
ketika diperbolehkan untuk berpikir bebas (sebagai bentuk ekspresi), bukan berarti berpikir keluar dari koridor yang sudah ditentukan.
~~~~~~~*****~~~~~~~
menulis ini bagai pisau bermata dua…
~~~~~~~*****~~~~~~~
pesan terakhir yang sanggup digores di tulisan ini…
memang menjadi penting itu BAIK TETAPI menjadi baik itu LEBIH PENTING!
tarian kusut ini semakin menggores tanpa haluan…
bila kita mau berpikir yang terdalam dari lubuk dasar yang terdalam.
KITA SEMUA TAHU JAWABANNYA.
permasalahannya satu, hanya satu,
… //kita semua tentu tahu
~~~~~~~*****~~~~~~~
wallahualam…
wassalammualaikum…
jazakumullah ahsanal jaza…
Filed under: rehat